Harakatunacom. - Ironis, Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia nyatanya memiliki sampah makanan terbesar di dunia
Bilaselesai dari makan lalu masih tersisa di pinggir piring sisa-sisanya mereka tidak menghabiskannya. Perbuatan seperti ini menyelisihi perintah Nabi Muhammad ﷺ!" (Syarah Riyadhus Shalihin, III/532) Semoga kita tergolongkan dalam pihak yang menerapkan semua sunnah Nabi Muhammad ﷺ lalu mengajak serta orang lain padanya. Wallahu A'lam Bishawab.
Oleh A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University) Salah satu perbuatan yang dimurkai Allah SWT, adalah seenaknya menyisahkan dan membuang buang makanan dan minuman. Kebiasan menyisahkan air minum di gelas dan botol, atau makanan tersisa di piring, segera hentikan, karena bisa jadi penyebab seretnya rezeki dan terbuangnya
Mengambilmakanan menggunakan sendok yang berbeda. Jangan menggunakan sendok yang kamu pakai untuk makan untuk mengambil makanan dari piring-piring di tengah meja. Kalau kamu sampai keliru, orang Vietnam menganggap hal itu sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Baca: Liburan ke Jepang, Ini 5 Hal yang Wajib Dilakukan di Tokyo. Memakai sumpit
Tidakisraf, membeli makanan secukupnya, mengambil makanan secukupnya, habiskan makanan di piring makan dan perbanyak sedekah. Percayalah dengan melakukan hal yang sederhana ini, kita dapat mencegah kelaparan penduduk bumi dan juga mencegah perubahan iklim. Mulai dari diri sendiri dan mulai dari hal yang kecil, lalu ajaklah orang di sekitar kita. *
Ketikamakan hendaknya menghabiskan makanan kita dan tidak menyisakan makanan di piring, meskipun itu hanya sebutir. Menyisakan makanan dan membuangnya termasuk perbuatan tercela dalam Islam karena hal itu termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta dan nikmat Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah benci terhadap tiga hal, yaitu berita palsu atau gosip, menyia-nyiakan harta atau makanan
Yaagan berhak atas makanan yang anda makan karena anda membayarnya. Namun di sisi lain apabila makanan yang kita pesan tidak habis secara tidak langsung anda akan membuang salah satu sumber pangan yang ada di negri kita sendiri. Kesimpulan Quote: Alangkah lebih baiknya kita bisa menghargai makanan yang kita beli.
c1598bN.
- Mencuci piring salah satu aktivitas di dapur yang kadang disepelekan oleh sebagian orang. Padatnya aktivitas, memang tak jarang membuat sebagian orang melakukan kesalahan saat mencuci piring. Meski aktivitas pada, ada baiknya piring yang kotor segera dicuci. Sebab menunda mencuci piring akan membuat cucian piring semakin menumpuk dan bisa menjadi sarang hama atau serangga hingga bakteri. Padahal dengan segera cuci piring atau mencuci piring secara rutin akan membuat dapur terlihat lebih rapi, teratur, dan enak dipandang, serta terhindar dari gangguan serangga atau hama. Melansir Taste of Home 13/9/2021, padatnya aktivitas, menjadikan sebagian orang tidak maksimal dalam mencuci piring, sehingga masih menyisakan noda dalam piring maupun alat makan lainnya. Baca Juga 5 Alasan Pakaian Dalam Sebaiknya Dicuci Terpisah, Ternyata Rawan Penyebaran Bakteri Jahat Perlu diketahui, ada beberapa kesalahan saat mencuci piring yang perlu dihindari. Apa saja kesalahan tersebut? Simak penjelasannya berikut ini. 1. Membiarkan piring menumpuk Membiarkan piring kotor menumpuk di wastafel dapur bukanlah kebiasaan yang baik. Sebab, tumpukan piring kotor tersebut akan menjadi sarang bakteri yang akan membuat dapur tidak higenis dan tentunya itu dapat mengganggu kesehatan. Menunda mencuci piring juga dapat membuat sisa saus atau sisa makanan lainnya berkerak, sehingga lebih sulit untuk dicuci. Jika belum bisa langsung mencucinya setelah makan, setidaknya bilas dulu piring dari sisa makanan agar lebih mudah saat mencucinya. 2. Jangan terlalu banyak menggunakan sabun Baca Juga Anak Batuk Pilek Jangan Diberi Antibiotik Tanpa Resep Dokter! Ini 7 Pengobatan Rumahan yang Bisa Dilakukan Jika kamu pernah mendapati gelas di lemari atau di rak piring tampak keruh dan sedikit kotor, itu karena penggunaan sabun yang terlalu banyak saat mencucinya. Busa dari sabun cuci piring yang berlebihan dapat menyisakan residu di piring, yang mana jika kering akan membekas dan tampak keruh. Sebaiknya gunakan setidaknya 1-2 sendok makan sabun saat mencucinya. 3. Mengeringkan menggunakan lap kotor Kesalahan mencuci piring berikutnya yaitu menggunakan lap kotor saat mengeringkannya. Sebab itu hanya akan membuat piring atau cucian lainnya menjadi tidak bersih. Solusinya, biarkan piring mengering dengan sendirinya. 4. Mencuci dengan suhu air standar Diketahui, untuk mensterilkan piring menggunakan suhu 48-60 derajat celsius, ini merupakan standar suhu sebagian besar alat pencuci piring. Dengan suhu ini, tentunya tidak dianjurkan mencucinya menggunakan tangan. Solusinya, jika mencuci menggunakan tangan, kamu bisa menggunakan air dingin dan menggunakan sarung tangan khusus cuci piring. 5. Menggosok dengan spons Kamu bisa menggunakan spons untuk menggosok piring kotor. Hanya saja, spons bisa menjadi tempat bersarangnya kuman dan bakteri. Oleh karena itu, pastikan untuk mengganti spons setidaknya seminggu sekali. Atau kamu bisa menggunakan sikat khusuw cuci piring. Selain lebih mudah saat menggosok kotoran atau noda, sikat juga lebi mudah kering dan dibersihkan. 6. Mengosongkan saluran pembuangan makanan Agar terhindar dari bakteri, kuman dan bau tak sedap di area wastafel, pastikan untuk selalu rutin membersihkan atau mengosongkan saluran pembuangan makanan dalam wastafel dapur dari sisa-sisa makanan. Nah, itulah beberapa kesalahan saat mencuci piring yang perlu kamu perhatikan dan pastikan untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang sudah disebutkan di atas. Kontributor Ulil Azmi
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pernahkah Anda menyadari bahwa menyisakan makanan yang disantap lalu membuangnya adalah tindakan kurang etis? Tentu banyak sekali kita melihat pada suatu pesta atau pada beberapa rumah makan, orang yang merasa memiliki uang dengan pongahnya memesan banyak mskanan, tetapi hanya disantap atau dihabiskan setengahnya saja, sisanya boro-boro diminta di bungkus, tetapi dibisrkan ditinggalkan di meja dan lalu dibuang ke tempat sampah oleh pramusaji rumah makan. Memang bisnis antara pemesan makanan dan pemilik rumah makan hanya sebatas pembayaran, begitu pembayaran diselesaikan semuanya beres. Sadarkah sisa makanan itu menjadi limbah? Sadarkah bahwa banyak manusia dimuka bumi ini masih banyak yang kelaparan? Berbeda dengan kondisi di sebuah negara di Eropa, orang memesan makanan sewajarnya saja, maka tidak heran bila kita melihat anak muda berdua yang hanya menghadapi dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka. Demikian pula pada meja lain sebuah keluarga memesan makanan secukupnya, lalu membagi diantara mereka zehingga habis tak bersisa. Apakah mereka tergolong pelit? Tidak, justru mereka perlu nendapat apresiasi karena telah menyelamatkan lingkungan. Karena di negara Eropa ini sudah diberlakukan peraturan, suatu denda bagi mereka yang menyia-nyiakan sumber daya alam. Karena sumber daya alam itu milik bersama. Jadi mereka yang menyisakan makanan di mejanya dapat dikenakan jadi teringat adanya peraturan pada rumah makan dengan konsep AYCE All You Can Eat yang sudah mulai menjamur di Indonesia. Kita boleh mengambil makanan apa saja, namun bila kita menyisakan makanan, maka rumah makan akan mengenakan denda. Konsep ini bagus, karena akan membiasakan pengunjung mengambil makanan sesuai kapasitas yang mampu bila kita menghadiri pesta dengan konsep prasmansn sekalipun, ambillah makanan secukupnya, jangan lapar mata, lalu hampir semua jenis makanan ditumpuk pada piring, sehingga tumpukannya sangat tinggi. Pertama akan membuat malu diri kita karena akan jadi bahan gunjingan. Kedua, kita pasti akan menyisakan makanan, yang identik dengan menyia-nyiakan sumber daya serupa juga berlaku bila kita menjamu tamu, bukannya kita pelit, tetapi pesanlah makanan secukupnya yang mampu kita habiskan. Bagaimana cara merubah kebiasaan buruk untuk selalu menyisakan makanan? Didiklah sejak ansk-anak kita masih kecil untuk menghargai setiap butir nasi. Saat saya masih kanak-kanak, ada peribshasa yang sering disebutkan oleh orang tua 'jangan menyisakan nasi di piring, karena nasi akan menangis'. Melalui peribahasa ini kita dibiasakan untuk mengambil makanan secukupnya, sehingga tidak perlu menyisakan sebutir nasipun di atas semua orangtua mau mendidik cara makan anak-anaknya, hampir dapat dipastikan generasi berikutnya akan menghapus kebiasaan buruk menyisakan makanan sama halnya dengan denda yang alan dikenakan pada mereka yang menyisakan makanan pada rumah makan dengan konsep AYCE. Sekaligus kita akan menyelamatkan sumber daya alam ysng akan terbuang percuma. Lihat Nature Selengkapnya
USAHAKAN TIDAK ADA MAKANAN YANG TERSISA DI PIRING ! Kita jangan pernah menganggap menyisakan makanan itu adalah perbuatan yang sah-sah saja untuk dilakukan, padahal perbuatan tersebut adalah perbuatan yang menyelisihi Sunnah. ▫ Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ، قَالَ " فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ ". "Nabi Muhammad ﷺ menyuruh kami untuk menghabiskan semua makanan yang di piring. Beliau ﷺ bersabda 'Karena kalian tidak tahu makanan mana yang membawa berkah'." HR. Muslim 2034 Jangan kita meremehkan sunnah ini. Lantaran kebaikan dan berkah pada diri seseorang tentunya tidak lepas dari peran serta makanan yang berkah yang masuk pada tubuh seseorang. ▫ Asy-Syaikh Muhammad Al 'Utsaimin berkata saat menjelaskan kedudukan sunnah ini وهذا أيضاً من السنة التي غفل عنها كثيرٌ من الناس مع الأسف كثير من الناس حتى من طلبة العلم أيضاً، إذا فرغوا من الأكل وجدت الجهة التي تليهم ما زال الأكل باقياً فيها، لا يلعقون الصحفة، وهذا حلاف ما أمر به النبي صلى الله عليه وسلم Ini juga termasuk sunnah yang banyak diabaikan oleh manusia. Yang sungguh disayangkan, banyak orang bahkan para penuntut ilmu [ orang yang sudah ta'lim, pent] mengabaikan sunnah ini. Bila selesai dari makan lalu masih tersisa di pinggir piring sisa-sisanya mereka tidak menghabiskannya. Perbuatan seperti ini menyelisihi perintah Nabi Muhammad ﷺ!" Syarah Riyadhus Shalihin, III/532 Semoga kita tergolongkan dalam pihak yang menerapkan semua sunnah Nabi Muhammad ﷺ lalu mengajak serta orang lain padanya. Wallahu A'lam Bishawab.
Memangnya kenapa kalau makanan di piringmu habis, bersih tidak bersisa? Malu? Gengsi disangka lapar sekaligus doyan? Kalau memang lapar dan doyan, lalu kenapa? Lalu yang menyuguhkan makanan mengamini, ikut menertawakan orang yang piringnya bersih. Kemudian mengakhiri tawanya dengan ungkapan bahwa itu cuma bercanda. Sungguh tidak pantas. Saya lupa kapan terakhir kali saya menyisakan makanan alias makanannya tidak habis. Barangkali, sewaktu SMP. Itu yang terakhir. Ingatan kuat soal adab makan ini, saya peroleh saat kuliah semester 4 atau 5. Ketika sedang mengajar, dosen saya yang satu itu, Prof D, selalu mengaitkan teori yang sedang kami pelajari dengan kejadian kontekstual. Di tengah cerita panjangnya –yang saya juga lupa beliau cerita apa– tiba-tiba beliau berpesan satu hal yang sampai detik ini, selalu saya ingat. Selalu. “Di balik sebutir nasi yang sampai di meja kita, yang ada di depan kita dan siap untuk kita santap itu, ada kerja keras dan keringat banyak orang. Maka, jangan sampai kita menyisakan makanan di piring. Setiap mau mulai makan, ingat saja orang-orang yang sudah bersusah payah menyediakan sebutir nasi itu untuk kita.” Ucapan beliau 6-7 tahun lalu yang selalu saya ingat dan akan terus diingat sampai kapan pun, insyaa Allah. Semoga diberi usia yang panjang dan barokah, Prof D. Dari serangkaian ingatan buruk tentang Bapak, ternyata ada juga ajaran yang efeknya baik untuk saya sekarang; dilarang mengeluh, makan harus habis, dilarang makan sambil bunyi kecap-kecap, sikat gigi 2x sehari. Hanya itu yang saya ingat. Saya bersyukur sekali punya orangtua yang sewaktu saya kecil, mencontohkan kebiasaan baik saat sedang makan. Fokus, rapi, bersih, tenang, cepat, sepi alias tidak bunyi kecap-kecap, dan harus habis. Jadi tidak ada sejarahnya kami saya, ibuk, bapak makan disambi aktivitas lain. Kalau sedang makan, ya, makan. Tidak boleh ada kegiatan lain. Maka, sewaktu saya masuk ke kehidupan selebriti akibat pekerjaan kantor, saya menemukan semua hal yang bagi saya sungguh sangat mengganggu itu. Suatu hari, kami makan bersama di restoran mahal. Mereka beli banyak menu, cuma dicicipi satu dua sendok, lalu dibiarkan begitu saja, tidak dibungkus untuk dibawa pulang. Saya yang saat itu sudah kekenyangan karena ternyata satu porsinya besar sekali, memaksakan diri untuk terus mengunyah pelan-pelan sampai habis tak bersisa. Saya kunyah daging steak lezat dengan air mata dan emosi yang ditahan-tahan. Pulangnya, sesudah kami berpisah jalan, saya menangis. Tergugu. Tetangga sebelah rumah saya persis, seorang ibu yang ketika hamil anak bungsunya, kelaparan tengah malam. Beliau punya sekotak makanan, tapi hanya cukup untuk si sulung. Diberikannya sekotak itu kepada anaknya sambil beralasan sudah kenyang. Padahal, perutnya lapar bukan main. Suami? Jauh dari harapan karena hobi judi. Akhirnya, beliau keluar rumah diam-diam, menuju rumah tetangga sebelahnya yang menggantung satu kantong plastik hitam di pagar rumah. Diambilnya kantong itu, lalu dibawa ke dalam rumah. Satu kantong plastik itu menyelamatkan dirinya sejenak pada malam itu. Apa isi kantong plastik itu? Makanan sisa. Makanan yang sengaja digantung di pagar supaya diambil kucing. Makanan yang sungguh tidak layak dikonsumsi manusia, apalagi ibu hamil! Makanan itu… bahkan kita tidak bisa menyebutnya sebagai “makanan” lagi. Sebab itu sampah. Hanya mengingatnya saja hati saya sakit sekali. Bahkan ketika menulis ini, mata saya memerah. Saya sungguh membenci sifat dan tindakan orang yang hobi menyisakan makanan.
jangan menyisakan makanan dalam piring karena itu perbuatan